Monday, 27 March 2017

5 Tips bagi Ibu Rumah Tangga yang Memiliki Usaha Sendiri

Mungkin beberapa dari anda para wanita yang baru saja bekeluarga, pernah bertanya-tanya,  Apakah salah dengan memilih menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi pengusaha?
Tentu saja tidak, asalkan keduanya dilakukan dengan penuh tanggung jawab, ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah dapat berkontribusi kepada kehidupan ekonomi keluarga.
Melakoni usaha dan menjadi seorang ibu rumah tangga saat di rumah, mungkin merupakan impian sebagian besar kaum wanita. Mungkin Anda salah satunya.

Berikut ini beberapa tips yang perlu Anda perhatikan jika ingin tetap menjadi pengusaha sukses tapi tetap bisa jadi  ibu yang baik bagi keluarga.

1. Manajemen Waktu
Ini merupakan hal paling penting jika memutuskan untuk menjalani dua profesi sekaligus. Sesibuk dan setinggi apa pun jabatan di kantor, harus diingat bahwa Anda seorang istri dan seorang ibu yang harus menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga dan membantu pekerjaan rumah si buah hati.

2. Bersikap Profesional
Jadilah profesional, usahakan agar waktu bekerja tidak mengganggu waktu Anda bersama keluarga tercinta. Sebaliknya, jangan biarkan urusan keluarga mengganggu pekerjaan Anda. Membuat skala prioritas mungkin bisa membantu Anda menentukan mana yang harus didahulukan.
3. Jaga Pola Hidup
Menjaga pola hidup wajib dilakukan untuk seorang pengusaha wanita yang juga seorang ibu. Makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, serta jangan lupa luangkan waktu untuk berolahraga merupakan cara yang baik untuk menyeimbangkan kesibukan Anda di kantor dan saat di rumah mengurus keluarga.

4. Me Time
Anda juga perlu memberikan yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Luangkan waktu sebentar dari keramaian dan menyendirilah, lakukan aktivitas yang membuat Anda tenang seperti berendam dengan air panas atau mungkin hal yang paling anda sukai yaitu pergi ke spa & salon untuk mendapatkan pijatan di seluruh tubuh.

5. Jaga Emosi
Tuntutan usaha yang cukup berat biasanya membuat wanita lebih sensitif, jadi jagalah emosi Anda baik-baik ketika sedang bersama dengan keluarga. Tak adil jika Anda melampiaskan kekesalan permasalahan usaha kepada buah hati saat ia mengajak Anda bermain atau mengerjakan tugasnya dari sekolah.

Jika 5 hal tersebut tak cukup membantu Anda dalam menjalani dua tanggung jawab, maka memilih profesi sebagai ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat.
Saat memilih menjadi ibu seutuhnya pikirkan aktivitas yang akan Anda lakukan di rumah selama anak bersekolah dan suami bekerja. Selain itu, kemampuan finansial pribadi pastinya akan berkurang dan ini berarti Anda harus membatasi keinginan yang berhubungan dengan materi.
Jika Anda memilih untuk menjadi ibu rumah tangga sambil memiliki usaha, Anda perlu menyeimbangkan pola hidup dan kerja.

Cacat Fisik Bukan Penghalang Meraih Kesuksesan.

Kisah Sukses Pak Sugimun yang lahir tahun 1970, di dusun Mojopuro, Magetan, Jawa Timur. Beliau adalah pemillik toko elektronik “Cahaya Baru” di kota trenggalek dan Magetan, Jawa Timur. Bagi orang Trenggalek , Magetan dan sekitarnya, nama toko itu sudah tidak asing lagi. “Cahaya Baru” dikenal sebagai toko elektronik yang cukup besar. Omsetnya sudah mencapai 150 juta per bulan.adalah pemilik toko elektronik “Cahaya Baru”. 

Sugimun memberi nama tokonya dengan “Cahaya Baru”, dengan dimaksudkan untuk mewakili sebuah harapan harapan baru bagi diri dan keluarganya,
Keberhasilan Sugimun seperti sekarang tidak lepas dari usaha dan doa ibunya. Maklum, selain sejak kecil cacat, Sugimun juga lahir dari keluarga miskin. Saking miskinnya, ia tidak sempat mengenyam pendidikan formal. “Sekolah TK saja enggak pernah,” kenangnya.
Perubahan kehidupan Sugimun berawal pada usia 19 tahun. Ketika itu, seorang aparat desa beberapa orang dari Dinas Sosial  datang ke rumahnya. Mereka mengajak Sugimun mengikuti program penyantunan dan rehabilitasi sosial dan penyandang cacat di Panti Sosial Bina Daksa (PSDB) “Suryatama” di kota Bangil, Jawa Timur. Ditempat tersebut Sugimun mengikuti bimbingan fisik, mental, serta pendidikan kejar Paket A.
“Pada awalnya, saya merasa rendah diri karena semua teman saya penyandang cacat memiliki pendidikan formal mulai dari SD, SMP bahkan ada yang lulusan SMA,” kenangnya. Sedangkan dirinya belum mengenal baca tulis.
Namun karena tekadnya untuk bangkit dan tidak ingin bergantung pada orang lain, rasa rendah diri itu dibuangnya jauh-jauh. Di Suryatama, ia belajar keterampilan elektronik seperti radio, sound system, kipas angin, televise, dan lain sebagainya.” Katanya.
Setelah dua tahun mengikuti program pelatihan, Sugimun kembali pulang kampung. Namun ia tidak punya aktivitas di desanya. Akhirnya ia mencoba mencari kerja di tempat usaha servis elektronik. Sayangnya, kebanyakan berujung pada penolakan. “Mungkin mereka menilai saya tidak cukup mampu bekerja dengan baik karena kondisi fisik seperti ini,” kenangnya,
Yang menyedihkan, seringkali ia disangka pengemis saat melamar pekerjaan. Ia baru bisa bekerja tatkala seorang teman di Kediri menerimanya sebagai karyawan sebuah bengkel elektronik. Namun karena suatu alasan, tidak sampai satu tahun, ia memutuskan untuk pulang kampung.
Ia pun mencoba melamar pekerjaan di kota kelahirannya. Lagi-lagi ia kembali mendapatkan penolakan, “Hal ini membawa saya pada kesimpulan bahwa saya harus membuka lapangan pekerjaan untuk bisa bekerja,” 

Disangka pengemis oleh seorang karyawan shoowroom mobil 

Suatu ketika Sugimun pergi ke solo untuk membeli mobil. Ketika akan masuk ke sebuah shoowroom mobil, seorang karyawan langsung menghampirinya dan memberikan uang recehan kepadanya. Diperlakukan seperti itu Sugimun segera menukas, “Oh, saya bukan pengemis, Mas. Saya mau beli mobil.” Tentu saja si karyawan tersebut kaget dan cepat-cepat masuk ke dalam sambil menanggung malu.
Menurut Sugimun, si karyawan mengira dirinya seorang pengemis karena menggunakan kursi roda, “Waktu itu sopir saya sudah duluan masuk show room,” kenang Sugimun tersenyum.

Berbekal Restu sang Ibu
Dengan kondisi ekonomi yang serba sulit serta pengalaman yang ditolak berkali-kali membuat Sugimun nekad berusaha sendiri. Berbekal restu sang ibu, tahun 1992 ia menjual perhiasan emas milik ibunya senilai Rp. 15.000,-. Uang tersebut sebagian ia pakai untuk menyewa lapak emperan pasar sayur Magetan. Di tempat yang kecil itu, ia membuka usaha jasa servis elektronik dan menjual isi korek api. Dengan perlengkapan seadanya, setiap hari ia melayani pelanggannya.
Untuk menjalankan usahanya, Sugimun harus berjuang keras. Betapa tidak, jarak perjalanan dari rumah ketempat usahanya sangatlah jauh. Dari desanya yang terpencil, ia harus berjuang menempuh jarak satu kilometer untuk menuju ke tempat mangkal angkutan umum yang akan membawanya ke kiosnya. Belum lagi jarak menuju pasar sayur. Ditambah lagi naik-turun angkutan umum. Bagi orang fisiknya normal, hal itu bukan masalah. Namun bagi Sugimun yang kakinya layuh (lumpuh) akibat polio, terasa berat.
Usahanya itu juga terkadang ramai, terkadang sepi. “Namun, saya tetap yakin Allah Maha Adil, Pengasih dan Pemurah,”katanya.
Dengan penuh ketelatenan dan kesungguhan, Sugimun berusaha meraih kepercayaan para pelanggan, terutama dalam menepati janji. Ia berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ia juga tidak pelit menjelaskan kepada pelanggannya tentang kerusakan dan onderdil yang harus dibutuhkan, termasuk harga dan kualitas onderdil yang bervariasi. “Ternyata dengan cara seperti itu kepercayaan bisa didapatkan,” katanya.
Kiosnya semakin sering dikunjungi orang. Berarti, kebutuhan akan onderdil elektronik juga meningkat.
Peluang inilah yang ia baca. Ia mulai menyisihkan uangnya untuk modal pembelian onderdil. sedikit demi sedikit ia juga melengkapi kiosnya dengan barang elektronik. Karena semakin lama barangnya kian banyak, akhirnya ia memberanikan diri membeli toko. “Alhamdulillah ramai,” jelasnya. Kini ia telah memiliki tiga unit toko.

Meski kini menjadi orang sukses, Sugimun tidak lupa terhadap keluarganya. Sebagai anak tertua dari delapan saudara, ia merasa bertanggung jawab atas eberlangsungan pendidikan adik-adiknya. Oleh karenanya, sebagian rezekinya ia gunakan untuk membantu biaya pendidikan tiga orang adiknya, ia mangajak mereka untuk membantu menjalankan toko elektroniknya. Ia berharap agar kelak, saudara-saudaranya yang lain mampu mandiri. “Saya bahagia bisa menyekolahkan ketiga adik saya hingga tamat SMU,” katanya.
Kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia menemukan jodohnya bernama Nursiam. Perempuan yang ia nikahi itu kini memberinya tiga orang anak. Selain itu, Sugimun juga membantu orang-orang di daerah sekitarnya. Ia tidak membantu dalam bentuk uang, melainkan berupa pemberian kesempatan pendidikan dan keterampilan. Ia membina beberapa yatim dan anak cacat agar memiliki berbagai keterampilan yang berguna bagi masa depan mereka kelak.

“Pengalaman masa lalu membuat saya sadar, bahwa pendidikan dan keterampilan sangat berguna bagi orang-orang seperti saya,” katanya sambil tersenyum. Ada tiga anak yatim cacat yang kini ia asuh. Tidak banyak memang, tetapi paling tidak, ia telah berbuat sesuatu untuk sesamanya.
Satu hal yang ia syukuri, ia hanya cacat fisik, bukan cacat rohani. Cacat fisik yang ia alami tidak membuatnya jatuh terpuruk mengharap belas kasih orang lain, melainkan sebagai pelecut semangat untuk menggapai cita-cita mandiri. Kini, meski ia secara fisik tidak sempurna, tetapi ia mampu berbuat lebih. Melebihi dari apa yang bisa dilakukan oleh orang normal. “Ini semua rahasia Allah, bahwa orang cacat seperti saya, diberi kemampuan untuk membantu orang lain,” katanya.

Kisah Sulthon Al’Idhel,Pria Lumpuh yang Sukses menjadi Pengusaha

Kisah Syaikh bernama Sulthon Bin Muhammad Al-‘Idzel (50 tahun) Ketika Allah mengujinya dengan penyakit syaraf yang melumpuhkan seluruh anggota badannya. Dengan sisa indera pendengaran dan penglihatan dia bertekad kuat untuk bangkit menjadi pengusaha sukses, dia mampu menjalankan beberapa perusahaan,yang membawahi ribuan karyawan. Bahkan dia menjadi penulis buku setebal 2.000 halaman, . Sulthon Al’Idhel mengidap penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) semacam penyakit meurologis serius yang menyebabkan kelemahan otot, kecacatan hingga kematian. Penyakit ini juga menimpa ilmuwan terkenal Stephen Hawking.

Meskipun fisiknya lemah, Sulthon Al’Idhel mempunyai tekad dan motivasi kuat dalam kehidupannya.

Sulthon Bin Muhammad Al-‘Idzel

Kehidupan Sulthon Al’Idhel sebelumnya normal pada umumnya, dia menghabiskan masa muda di Ibukota Riyadh hingga kuliah disebuah Institute setempat. Kemudian ditahun 1980 dia melanjutkan studinya ke Universitas Portland, Amerika, mengambil jurusan Teknik Listrik. Dia pernah mendapat penghargaan dalam bidang Pengembangan Keterampilan Kepemimpinan dari Covey Leadership Center dan pernah juga mendapatkan penghargaan bergengsi dari Franklin Covey.
Kemudian ia kembali ke negeri asalnya untuk membangun ekonomi. Dia mengawali perjuangan yang sulit apalagi dia baru pertama terjun dalam dunia bisnis. Berkat bantuan relasi dan pihak kerajaan Saudi karirnya dalam bisnis mulai melejit.

Namun pada tahun 1997 dia mendapat ujian dari Allah berupa sakit syaraf. Puncaknya pada tahun 2002 tubuhnya lumpuh total kecuali mata dan bibir yang bisa digerakkan. Inderanya juga mengalami nasib yang sama kecuali penglihatan, pendengaran dan rasa. Bahkan dia bernafas dengan tabung bantuan respirator yang langsung terhubung dengan perutnya.
Dengan kondisi yang serba kekurangan, dia pernah mengungkapkan isi hatinya pada wawancara khusus yang diliput majalah Arrojul. Dia mengatakan,
“Saya menasehatkan, segala penyakit itu datang dari Allah Subhanahu Wa ta’ala, jangan pantang menyerah dan selalu bersabarlah dengan musibah yg menimpa kita. Dan yakinlah bahwa Allah bersama dengan orang-orang sabar, dan tidaklah bertambahnya sakit agar kita semakin dekat dengan Allah. Mari kita meneladani hadis dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah musibah terus menimpa terhadap seorang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan pada dirinya, anaknya dan harta bendanya hingga nanti bertemu Allah tidak tersisa kesalahan sama sekali.” Dan seharusnya sakit tidak menjadi penghalang hidup kita.
Pada tahun 1994 Sulthon Al’idhel mendirikan SMSA Expres, bekerjasama dengan Fedex Internasional, semenjak saat itu perusahaannya berkembang sangat pesat. Jaringannya sangat luas yang menghubungkan 200 kota di Saudi Arabia. Ia mempunyai 1.000 armada besar yang tersebar seluruh dunia. Perusahaannya sudah melayani hingga 200 negara.
Suatu hari dalam kunjungannya ke Amerika dia melihat toko donat yang dikemas indah dengan aneka rasa . Merek donat tersebut bernama “Dunkin’ Donuts”, ide bisnisnya berjalan. Lalu pada tahun 1996 secara eksklusif dia memegang brand “Dunkin’ Donuts” untuk dipasarkan di Riyadh. Dan kini cabangnya sudah menyebar di berbagai pelosok Saudi. Dan dia juga mempunyai perusahaan yang bergerak dibidang Security dan Safety (flamenco) dan menjadi salah satu anggota dewan perusahaan yg bergerak bidang ekspor-import.
Keadaan Sulthon Al’idhel yang tidak mempunyai kemampuan berbicara dan mengangkat pena ini dia habiskan dihadapan komputer. Dia memperbanyak membaca dan meneliti berbagai ilmu, bahkan dia mampu menulis dengan isyarat matanya sebuah buku biografi mendiang raja Abdul Aziz setebal 2.000 halaman yg terbagi menjadi 2 jilid. Sulthon Al’Idhel mampu mengelola ribuan karyawan dengan matanya.

Semoga kisah ini menjadi motivasi kita semua. Terimakasih